Gunung Anak Krakatau Erupsi, 5 Jurnalis Hilang Kontak: Update Terbaru 12 September 2026

Gunung Anak Krakatau Erupsi, 5 Jurnalis Hilang Kontak: Update Terbaru 12 September 2026
Go Bali Rental
11 September 2026
Blog & Artikel

Gunung Anak Krakatau erupsi kembali menjadi perhatian publik setelah aktivitas vulkaniknya meningkat pada awal September 2026. Selain erupsi yang berlangsung cukup lama, perhatian masyarakat juga tertuju pada hilangnya kontak rombongan jurnalis yang sedang melakukan peliputan di perairan Selat Sunda.

Baca juga : Review Ubud untuk Liburan September: Waktu yang Tepat Menikmati Bali

Lima jurnalis bersama tiga orang lainnya dilaporkan hilang kontak setelah berangkat menggunakan speedboat dari kawasan Carita, Pandeglang, Banten, menuju perairan sekitar Gunung Anak Krakatau pada Senin, 7 September 2026.

Hingga informasi terbaru yang tersedia pada 11 September 2026, operasi pencarian masih dilakukan oleh tim SAR gabungan. Tim juga menemukan sejumlah benda yang diduga berkaitan dengan operasi pencarian, tetapi keterkaitannya dengan rombongan yang hilang masih harus diverifikasi.

Artikel ini dirangkum berdasarkan informasi dari Badan Geologi/PVMBG, Basarnas, Sekretariat Kabinet, ANTARA, serta laporan media yang mengutip keterangan resmi pihak berwenang.

Catatan pembaruan: Artikel ini disusun untuk publikasi 12 September 2026 menggunakan informasi resmi dan laporan terbaru yang tersedia hingga 11 September 2026. Perkembangan setelah waktu tersebut perlu dikonfirmasi kembali melalui kanal resmi pemerintah.

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Apa yang Terjadi?

Aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat sejak pertengahan 2026. Badan Geologi mencatat Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi sejak 2 Juli 2026 dan status aktivitasnya berada pada Level III atau Siaga.

Pada awal September, aktivitas tersebut kembali meningkat. Badan Geologi melaporkan terjadi satu episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam, mulai 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.

Dalam laporan resmi 10 September, Badan Geologi menyebut aktivitas kemudian kembali menunjukkan karakteristik erupsi Strombolian. Pada periode 9–10 September tercatat satu gempa erupsi, enam gempa hembusan, tiga gempa low frequency, lima gempa hybrid/fase banyak, tremor menerus, serta aktivitas kegempaan lainnya.

Meski terdapat kecenderungan penurunan aktivitas setelah episode erupsi menerus, Badan Geologi menegaskan bahwa probabilitas terjadinya letusan pada beberapa periode berikutnya masih tinggi.

Ancaman yang perlu diperhatikan antara lain lontaran batu pijar dan hujan abu lebat.

Status Gunung Anak Krakatau Terbaru

Berdasarkan laporan resmi Badan Geologi yang tersedia, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga).

Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi PVMBG dan tidak mendekati kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona berbahaya.

Kondisi ini penting diperhatikan oleh masyarakat yang melakukan perjalanan di sekitar Selat Sunda. Aktivitas gunung api dapat berubah sehingga informasi dari media sosial atau pesan berantai sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya acuan.

Informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat dipantau melalui PVMBG/Badan Geologi dan MAGMA Indonesia.

5 Jurnalis Hilang Saat Meliput Erupsi Gunung Anak Krakatau

Peristiwa lain yang membuat erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi sorotan adalah hilangnya sebuah rombongan peliput di perairan Selat Sunda.

Menurut laporan yang dikutip ANTARA dan Basarnas, rombongan tersebut terdiri dari delapan orang, yaitu lima jurnalis, kapten kapal, seorang anak buah kapal, dan seorang pemandu.

Mereka berangkat menggunakan speedboat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, sekitar pukul 14.00 WIB pada Senin, 7 September 2026.

Komunikasi terakhir dilaporkan terjadi sekitar pukul 14.42 WIB. Setelah itu, rombongan tidak lagi dapat dihubungi.

Lima jurnalis yang dilaporkan berada dalam rombongan tersebut berasal dari sejumlah media, yaitu:

  • M. Bagus Khoirunnas — ANTARA

  • Ari Basuki — Merdeka

  • Yudhis/Yudistiro Pranoto — iNews

  • Firman Daus — Anadolu Agency

  • Donal Husni — jurnalis foto lepas

Selain kelima jurnalis tersebut, tiga orang lain dalam kapal adalah kapten, ABK, dan guide.

Operasi SAR Terus Dilakukan

Pencarian terhadap rombongan tersebut dilakukan secara gabungan dengan melibatkan unsur Basarnas, TNI AL, Polairud, nelayan, serta unsur terkait lainnya.

Pemerintah juga memberikan perhatian khusus terhadap pencarian tersebut. Sekretariat Kabinet menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan Kepala Staf Angkatan Laut untuk mengerahkan kekuatan dalam pencarian sejak rombongan dilaporkan hilang kontak.

Dalam perkembangan operasi, sejumlah kapal dikerahkan untuk menyisir perairan Selat Sunda.

Pada perkembangan terbaru yang dipublikasikan 11 September, Basarnas menyatakan belum menemukan tanda keberadaan lima jurnalis tersebut di Pulau Sertung.

Pulau tersebut menjadi salah satu area yang diperhatikan dalam operasi pencarian. Namun, akses langsung ke Pulau Sertung memiliki kendala karena wilayah tersebut berada dalam radius 3 kilometer dari Gunung Anak Krakatau yang masih dinilai rawan berdasarkan rekomendasi PVMBG.

Ditemukan Life Jacket, tetapi Belum Dipastikan Milik Rombongan

Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian dalam pencarian adalah ditemukannya life jacket atau jaket pelampung.

ANTARA melaporkan bahwa benda tersebut ditemukan oleh kapal KAL Anyer pada Kamis, 10 September 2026 sekitar pukul 15.32 WIB.

Namun, masyarakat perlu berhati-hati dalam menyimpulkan informasi tersebut.

Life jacket yang ditemukan belum dapat dipastikan merupakan milik rombongan jurnalis yang hilang. Pihak berwenang masih melakukan identifikasi dan verifikasi.

Dengan demikian, sampai informasi terbaru yang tersedia pada 11 September, belum tepat apabila temuan tersebut dianggap sebagai bukti bahwa rombongan telah ditemukan.

Mengapa Pencarian Tidak Bisa Dilakukan Sembarangan?

Gunung Anak Krakatau bukan sekadar lokasi wisata biasa.

Ketika aktivitas vulkanik meningkat, kawasan di sekitarnya dapat memiliki berbagai risiko, mulai dari material vulkanik, abu, lontaran batu pijar, hingga perubahan kondisi laut dan cuaca.

Badan Geologi juga menegaskan adanya zona bahaya yang harus dipatuhi.

Karena itu, operasi pencarian harus mempertimbangkan keselamatan personel SAR. Tim tidak bisa begitu saja memasuki seluruh area di sekitar gunung tanpa mempertimbangkan radius bahaya dan kondisi vulkanik terbaru.

Kondisi inilah yang menjadi salah satu tantangan dalam pencarian rombongan jurnalis.

Dampak Erupsi Anak Krakatau Tidak Hanya di Sekitar Gunung

Dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau juga terasa lebih luas.

Salah satu dampaknya adalah gangguan penerbangan akibat abu vulkanik. Pada periode sebelumnya, sejumlah bandara sempat terdampak abu erupsi dan penerbangan mengalami gangguan.

Reuters melaporkan bahwa beberapa bandara Indonesia yang sebelumnya ditutup akibat abu vulkanik telah kembali dibuka setelah kondisi abu membaik. Namun, aktivitas Anak Krakatau tetap dipantau karena gunung tersebut masih dapat mengalami erupsi berikutnya.

Hal ini menjadi pengingat bagi wisatawan bahwa aktivitas gunung api dapat berdampak pada perjalanan udara, perjalanan darat, maupun perjalanan laut.

Apakah Erupsi Gunung Anak Krakatau Berbahaya bagi Wisatawan Bali?

Bagi wisatawan yang sedang berada di Bali, berita mengenai erupsi Gunung Anak Krakatau tentu dapat menimbulkan kekhawatiran.

Namun, penting membedakan antara lokasi erupsi dan destinasi wisata Bali.

Gunung Anak Krakatau berada di kawasan Selat Sunda, bukan di Pulau Bali. Karena itu, wisatawan di Bali tidak perlu panik hanya karena melihat berita mengenai erupsi.

Yang tetap perlu diperhatikan adalah informasi penerbangan apabila perjalanan melibatkan rute yang terdampak abu vulkanik.

Wisatawan sebaiknya:

  1. Memeriksa status penerbangan sebelum menuju bandara.

  2. Mengikuti informasi resmi dari maskapai dan otoritas penerbangan.

  3. Tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

  4. Menghindari kawasan yang dinyatakan sebagai zona bahaya.

  5. Mengikuti instruksi pemerintah apabila terjadi perubahan kondisi.

Jangan Terjebak FOMO Berwisata ke Kawasan Erupsi

Fenomena erupsi memang menarik secara visual. Foto dan video Gunung Anak Krakatau yang mengeluarkan lava, abu, atau cahaya erupsi dapat dengan cepat menjadi viral di media sosial.

Namun, FOMO atau Fear of Missing Out jangan sampai membuat wisatawan mengabaikan keselamatan.

Mendekati gunung api aktif hanya demi mendapatkan foto atau video viral bukan keputusan yang bijaksana, terlebih ketika status gunung masih berada pada Level III (Siaga).

Peristiwa hilangnya rombongan jurnalis juga menjadi pengingat bahwa aktivitas peliputan di kawasan vulkanik membutuhkan perencanaan, peralatan, koordinasi, serta kepatuhan terhadap batas keselamatan.

Apa yang Harus Dilakukan Wisatawan Saat Ada Informasi Erupsi?

Jika Anda sedang merencanakan perjalanan, jangan hanya melihat apakah sebuah destinasi terlihat aman di media sosial.

Gunakan beberapa langkah sederhana:

1. Cek sumber resmi

Prioritaskan informasi dari PVMBG/Badan Geologi, BMKG, Basarnas, BNPB, pemerintah daerah, bandara, dan maskapai.

2. Cek kondisi transportasi

Abu vulkanik dapat memengaruhi operasional penerbangan. Pastikan jadwal penerbangan tetap berjalan sebelum berangkat ke bandara.

3. Jangan mendekati zona bahaya

Pemandangan erupsi memang menarik, tetapi keselamatan harus menjadi prioritas.

4. Siapkan rencana perjalanan alternatif

Jika terjadi gangguan transportasi, memiliki kendaraan sewa dapat membantu wisatawan menyesuaikan perjalanan darat di Bali.

5. Gunakan layanan rental mobil yang fleksibel

Bagi wisatawan yang berada di Bali, rental mobil dapat menjadi pilihan praktis untuk mengunjungi berbagai destinasi tanpa harus bergantung pada transportasi umum.

Bagaimana dengan Wisata ke Bali?

Bali tetap memiliki banyak pilihan destinasi wisata yang berada jauh dari kawasan Gunung Anak Krakatau.

Wisatawan dapat menyesuaikan itinerary dengan kondisi terkini dan memilih destinasi darat yang sesuai dengan situasi perjalanan.

Jika Anda baru tiba di Bali dan membutuhkan kendaraan untuk perjalanan wisata, Go Bali Rental siap membantu kebutuhan transportasi selama berada di Pulau Dewata.

Mulai dari perjalanan keluarga, honeymoon, perjalanan bisnis, hingga itinerary wisata beberapa hari, kendaraan rental dapat membantu perjalanan menjadi lebih fleksibel.

Yang paling penting, wisatawan tetap perlu memantau kondisi penerbangan dan informasi resmi sebelum melakukan perjalanan.

Go Bali Rental Siap Antar Jemput dari Airport

Setelah perjalanan panjang, wisatawan tentu tidak ingin repot mencari kendaraan begitu tiba di Bali.

Go Bali Rental menyediakan fasilitas Gratis Antar Jemput Airport sebagai salah satu layanan unggulan untuk membantu pelanggan memulai perjalanan dengan lebih nyaman.

Anda dapat mengatur kendaraan rental sesuai kebutuhan perjalanan, baik untuk perjalanan singkat maupun itinerary wisata beberapa hari di Bali.

Jangan menunggu sampai kendaraan habis, terutama ketika musim liburan atau periode high season. FOMO bukan hanya soal destinasi yang ingin dikunjungi, tetapi juga soal ketersediaan kendaraan rental.

Jika Anda sudah memiliki jadwal kedatangan di Bali, lebih baik melakukan reservasi lebih awal.

Butuh Rental Mobil di Bali?

Pesan kendaraan Anda di Go Bali Rental sekarang.

Nikmati perjalanan Bali dengan lebih praktis dan nyaman, sekaligus mendapatkan Gratis Antar Jemput Airport sesuai ketentuan layanan.

Klik WhatsApp untuk cek ketersediaan mobil, harga sewa, dan jadwal antar-jemput airport.


Kesimpulan

Gunung Anak Krakatau erupsi kembali menjadi perhatian nasional pada September 2026, terutama setelah terjadi episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam pada 4–6 September.

Status Gunung Anak Krakatau berdasarkan informasi resmi Badan Geologi yang tersedia masih berada pada Level III (Siaga). Aktivitas vulkanik masih terus dipantau dan potensi erupsi berikutnya tetap perlu diwaspadai.

Di tengah aktivitas tersebut, lima jurnalis bersama tiga orang lainnya juga dilaporkan hilang kontak setelah melakukan perjalanan menggunakan speedboat dari Carita menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.

Operasi SAR masih berlangsung. Temuan life jacket menjadi salah satu petunjuk dalam pencarian, tetapi hingga informasi yang tersedia pada 11 September 2026, belum dapat dipastikan bahwa benda tersebut merupakan milik rombongan yang dicari.

Bagi wisatawan, peristiwa ini menjadi pengingat penting: selalu utamakan keselamatan, cek sumber resmi, dan jangan memasuki kawasan yang dinyatakan berbahaya hanya demi mendapatkan pengalaman atau konten viral.

Untuk wisatawan yang sedang atau akan berada di Bali, perjalanan tetap dapat dilakukan dengan memperhatikan informasi transportasi dan kondisi terbaru.

Butuh mobil selama liburan di Bali? Hubungi Go Bali Rental dan manfaatkan fasilitas Gratis Antar Jemput Airport.

Sumber Informasi

  • Badan Geologi Kementerian ESDM — perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau 10 September 2026.

  • Badan Geologi Kementerian ESDM — laporan fenomena erupsi menerus Gunung Anak Krakatau.

  • Kementerian ESDM — status Level III (Siaga) setelah episode erupsi menerus.

  • Sekretariat Kabinet RI — instruksi Presiden terkait pencarian rombongan jurnalis.

  • ANTARA — perkembangan pencarian jurnalis di Pulau Sertung.

  • ANTARA — temuan dan proses identifikasi life jacket.

  • Reuters — dampak abu vulkanik terhadap operasional penerbangan.

Update terakhir yang digunakan dalam artikel: 11 September 2026. Untuk publikasi 12 September 2026, admin sebaiknya melakukan pengecekan ulang status SAR dan laporan terbaru PVMBG/Basarnas sebelum artikel ditayangkan.